HARIMAUSANGKILANINFO,COM,-Batang Hari, Jambi – Bayangkan saja: tronton bermuatan batu bara seberat 40 ton melaju santai di ruas Jalan Gajah Mada, seolah tak ada aturan yang membatasi. Fenomena ini diduga sudah berlangsung lama, bahkan berjalan dengan sistem yang terstruktur — lengkap dengan “pengamanan tidak resmi” atau yang kerap disebut di lapangan sebagai beking, yang bertugas mengamankan perjalanan dari satu wilayah ke wilayah lain.
Keterangan mengejutkan ini terungkap dari pengakuan langsung seorang sopir yang bertugas mengangkut muatan itu, yang akrab disapa Bg Pendi. Saat enam unit trontonnya terparkir di area Rumah Makan Solok Selatan, Muara Bulian, pada dini hari Minggu (21/6/2026) sekitar pukul 03.00 WIB, ia membuka fakta di balik kelancaran perjalanan rombongan truk tersebut.
“Malam ini kami bergerak sembilan unit, lima di antaranya sudah lewat lebih dulu. Satu truk isinya rata-rata 40 ton batu bara. Kalau jalan biasa tanpa ‘jalur’, mustahil bisa lewat secepat dan senyaman ini,” ujarnya saat diwawancarai secara tertutup.
Sistem “Beking” Berjalan Teratur
Lebih rinci, ia mengungkapkan adanya pembagian wilayah tugas yang jelas. Dari arah Mandi Angin hingga Muara Tembesi, perjalanan dijamin lancar oleh pihak berinisial YS. Begitu masuk ke wilayah Muara Bulian, “tanggung jawab” langsung diambil alih oleh pihak berinisial HM.
Jauh Melebihi Batas Aturan Resmi
Fakta semakin terang saat disandingkan dengan peraturan yang berlaku. Berdasarkan Peraturan Daerah Provinsi Jambi Nomor 13 Tahun 2012 beserta penyesuaian teknis terbaru, batas maksimal muatan angkutan batu bara yang diperbolehkan hanya berkisar antara 8 ton hingga 12 ton per kendaraan, tergantung jenis jalan dan spesifikasi truk.
Artinya, muatan 40 ton yang diangkut itu melampaui batas hingga 3–5 kali lipat dari ketentuan resmi. “Selama ini memang lancar jaya, tapi saya sadar ini jelas melanggar aturan. Kalau tidak ada ‘beking’ di setiap pos, mustahil bisa terus berjalan begini,” akui Bg Pendi jujur.
Jalan Umum Jadi Korban
Dampak nyata sudah terlihat di lapangan. Pantauan tim redaksi menunjukkan kondisi Jalan Gajah Mada yang mulai rusak parah di beberapa titik — ada lubang, aspal mengelupas, dan permukaan tak lagi rata. Beban muatan berlebih yang melintas setiap hari diduga menjadi penyebab utama kerusakan infrastruktur yang seharusnya dinikmati seluruh warga, bukan hanya melayani kepentingan segelintir pengusaha.
Setelah konfirmasi Kasatlantas Beni. Batu bara ini gak ada habisnya. Semua berkaitan. Kito Samo-samo orang Batanghari.
Penting Diketahui Pembaca:
Berita ini disusun berdasarkan pengakuan narasumber dan hasil pantauan langsung di lokasi. Dugaan adanya sistem “beking” serta pelanggaran muatan ini masih memerlukan verifikasi resmi dari instansi terkait seperti Dinas Perhubungan, Kepolisian, dan Dinas PU.
Redaksi menjunjung tinggi prinsip praduga tak bersalah dan membuka ruang seluas-luasnya bagi pihak-pihak yang disebutkan maupun instansi berwenang untuk memberikan klarifikasi, penjelasan, atau hak jawab. Kami akan terus melacak perkembangan kasus ini hingga ke akar permasalahannya.(*)
Azharudin.spd.i
***Harimausangkilan***
Sumber: Pengakuan Narasumber,







