BATANGHARI, JAMBI — Kasus dugaan perundungan yang menimpa seorang siswa di SMAN 5 Batanghari, Kecamatan Bajubang, Kabupaten Batanghari, Jambi, kembali menjadi sorotan. Senin (24/8/2026), keluarga korban menyampaikan keluh kesah sekaligus harapan agar persoalan tersebut mendapat penanganan serius dan berkeadilan.

Ibu korban mengaku kondisi anaknya masih diliputi trauma setelah dugaan kekerasan yang dialaminya. Bahkan, keluarga kini mempertimbangkan untuk memindahkan sang anak ke sekolah di Jawa Barat karena korban disebut tidak lagi merasa aman untuk kembali mengikuti kegiatan belajar di sekolah.

Dalam keluh kesahnya, sang ibu menyampaikan bahwa anaknya semakin takut bersekolah lantaran pihak yang diduga terlibat dalam peristiwa tersebut masih terlihat berada di lingkungan sekolah.

“Tolong Pak, kawal kasus ini. Anakku sampai mau pindah sekolah ke Jawa Barat lagi saking traumanya.”

Ia juga mengungkapkan kekhawatirannya karena anaknya belum berani kembali ke sekolah.

“Pelaku juga masih berkeliaran. Sabtu mereka masih sekolah, anakku nggak berani sekolah lagi.”

Pernyataan tersebut menggambarkan betapa berat tekanan psikologis yang dirasakan keluarga korban. Bagi orang tua, keselamatan dan rasa aman anak ketika berada di lingkungan pendidikan menjadi hal yang tidak dapat ditawar.

Sementara itu, Salah satu ketua organisasi persatuan wartawan Republik Indonesia (PWRI)menyatakan kesiapan untuk ikut mengawal perjuangan keluarga korban dalam memperoleh keadilan.

“Siap, Bu. Kita tuntut keadilan,” demikian pernyataan dukungan yang disampaikan kepada keluarga korban.

Keluarga Minta Penanganan Serius,
Keluarga berharap kasus ini tidak berhenti sebatas perhatian publik, tetapi ditindaklanjuti secara serius oleh pihak sekolah, Dinas Pendidikan, aparat penegak hukum, serta pihak-pihak terkait lainnya sesuai kewenangan masing-masing.

Mereka meminta agar keselamatan dan kondisi psikologis korban menjadi prioritas.

Jika benar terdapat dugaan kekerasan atau perundungan, keluarga berharap proses penanganannya dilakukan secara transparan, objektif, dan tidak mengabaikan hak-hak korban.

Kasus ini juga menjadi pengingat bahwa sekolah seharusnya menjadi tempat yang aman bagi seluruh siswa untuk belajar, berkembang, dan membangun masa depan—bukan tempat yang membuat seorang anak merasa takut untuk kembali.

Publik Menanti Langkah Nyata

Sorotan masyarakat terhadap kasus dugaan perundungan di SMAN 5 Batanghari semakin kuat. Publik kini menanti langkah konkret dari pihak berwenang untuk memastikan kejadian serupa tidak terulang serta memberikan kepastian mengenai penanganan perkara tersebut.

Di sisi lain, seluruh pihak tetap perlu mengedepankan asas praduga tak bersalah dan tidak melakukan tindakan main hakim sendiri. Fakta mengenai dugaan kekerasan tersebut harus dibuktikan melalui proses pemeriksaan yang objektif.

Redaksi Harimau Sangkilan,com akan terus mengawal perkembangan kasus ini dan memberikan ruang kepada pihak sekolah, Dinas Pendidikan, kepolisian, maupun pihak terlapor untuk menyampaikan klarifikasi dan keterangan resmi secara berimbang.

Bagi keluarga korban, persoalan ini bukan sekadar sebuah pemberitaan. Ini menyangkut rasa aman, masa depan, dan keberanian seorang anak untuk kembali menatap dunia pendidikan tanpa dihantui rasa takut.(Red

JURNALIS:TaufikHidayat.SH