BATANG HARI — Potret ketimpangan distribusi tenaga pendidik di satuan pendidikan negeri Kabupaten Batang Hari kembali memantik perhatian publik. Berdasarkan pemutakhiran Data Pokok Pendidikan (Dapodik), SMP Negeri Satu Atap (Satap) Bulian Baru mencatatkan rasio guru dan murid yang terbilang cukup ekstrem dan disinyalir kurang efisien.

​Sekolah yang berlokasi di wilayah Kecamatan batin dua empat ini tercatat hanya memiliki total murid sekitar 44 hingga 52 orang. Namun yang mengejutkan, jumlah Tenaga Pendidik dan Kependidikan (Tendik) di sekolah tersebut mencapai 9 orang. Angka ini menunjukkan rasio ideal yang berlebihan, di mana satu orang pengajar atau staf rata-rata hanya mengajar sekitar 5 orang siswa.

​Kondisi “gemuknya” struktur tenaga pendidik di tengah minimnya peserta didik ini dinilai bertolak belakang dengan kondisi umum di sekolah-sekolah lain yang kerap mengalami krisis atau kekurangan guru mata pelajaran.

Meskipun sekolah berkonsep Satu Atap (Satap) umumnya didirikan untuk menjangkau pemukiman dengan populasi anak usia sekolah yang terbatas, proporsi anggaran operasional dan beban kerja guru di SMPN Satap Bulian Baru dinilai perlu dievaluasi kembali.

​Sejumlah pemerhati pendidikan daerah menilai bahwa ketimpangan ini mencerminkan belum meratanya pemetaan dan redistribusi tenaga kerja oleh instansi terkait. Di satu sisi, kehadiran 9 orang tendik seharusnya mampu mendongkrak kualitas pengajaran secara individual bagi para siswa. Namun di sisi lain, hal ini memicu pertanyakan efektivitas pemanfaatan Sumber Daya Manusia (SDM) dan efisiensi anggaran daerah.

​Masyarakat dan pihak terkait berharap Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Batang Hari segera melakukan kajian komprehensif serta pemerataan (redistribusi) guru secara proporsional.

Langkah tersebut dinilai krusial agar sekolah yang kekurangan pengajar mendapatkan pasokan guru yang cukup, sementara sekolah dengan jumlah siswa minim tetap berjalan efisien tanpa membebani tatanan tata kelola pendidikan daerah.(Red)

jurnalis: Taufik Mersam