BATANG HARI​-Suasana malam di Simpang Tiga Pal 5, Muara Tembesi, Batanghari, mendadak mencekam. Di tengah keheningan jalanan yang sepi, sebuah sepeda motor Honda Beat berwarna hitam melaju mendekati truk angkutan batu bara yang sedang melintas. Tanpa peringatan, pengendara motor tersebut melemparkan benda ke arah kaca depan truk hingga pecah berkeping-keping. Aksi nekat ini bukan sekadar pengrusakan biasa, melainkan teror nyata yang mengancam nyawa pengemudi di balik kemudi.

​Peristiwa ini hanyalah puncak gunung es dari rentetan aksi premanisme jalanan yang kian merajalela. Jalur pengangkutan batu bara di Kabupaten Batanghari kini berubah menjadi lintasan penuh kecemasan bagi para sopir.

​Sepanjang rute yang membentang dari mulut tambang Koto Boyo di Kecamatan Bathin XXIV hingga ke area bongkar muatan, para sopir harus berhadapan dengan titik-titik rawan pungutan liar (pungli). Aksi pemerasan berkedok keamanan jalan ini dilakukan secara terang-terangan oleh kelompok-kelompok tak bertanggung jawab yang menjadikan sopir truk sebagai sasaran empuk pemerasan.

​Ironisnya, ancaman keselamatan dan dompet para pengemudi ini seolah diabaikan oleh aparat penegak hukum.keluhan para sopir yang dilayangkan Melalui media sosial dan pemberitaan kepada Polres Batanghari maupun Polsek Muara Tembesi sebatas angin lalu. Hingga kini, belum terlihat langkah nyata atau operasi penertiban yang tegas dari kepolisian untuk membersihkan jalur tersebut dari para pelaku pungli.

​Para sopir menegaskan bahwa ketaatan mereka selama ini pada hukum bukan berarti mereka pengecut. Kesabaran para pengemudi kini berada di ujung tanduk. Jika pihak APH terus memilih duduk manis di kantor dan hanya menunggu laporan tanpa turun tangan, para sopir mengancam akan mengambil tindakan sendiri untuk membersihkan premanisme di jalanan.

​Situasi ini menuntut tindakan cepat dan tegas dari Polres Batanghari dan Polsek Tembesi. Kehadiran polisi sangat dinantikan bukan sekadar untuk mencatat laporan, melainkan untuk memulihkan rasa aman dan nyaman di jalan raya sebelum kemarahan para sopir memicu konflik sosial yang lebih besar.(Red)

Jurnalis: Taufik Mersam