BATANGHARI – Kawasan Hutan Konservasi Taman Hutan Raya (Tahura) Sultan Thaha Syaifuddin atau yang lebih dikenal dengan Tahura Senami kini berada di titik nadir. Hutan penyangga kehidupan yang dahulu hijau dan asri, kini ludes terbakar dan terancam hanya menjadi cerita dongeng bagi generasi mendatang.
Gubernur Jambi bersama jajaran Forum Komunikasi Pimpinan Daerah (Forkopimda), jajaran Koramil, serta Bupati Batanghari, Muhammad Fadhil Arief, turun langsung ke lokasi untuk meninjau parahnya dampak kebakaran hutan dan lahan (karhutla) tersebut.
Kunjungan lapangan ini membuka mata banyak pihak atas realitas pahit di lapangan. Tahura Senami yang seharusnya dilindungi undang-undang kini disinyalir kuat telah mengalami alih fungsi lahan secara masif. Pembukaan perkebunan kelapa sawit secara tidak sah hingga maraknya aktivitas penambangan minyak ilegal (illegal drilling) disinyalir menjadi pemicu utama rapuhnya ekosistem hutan hingga mudah terbakar hebat.
Masyarakat Kabupaten Batanghari menaruh harapan besar atas kehadiran para pengambil kebijakan ini. Mereka mendesak Pemerintah Provinsi Jambi dan Pemerintah Kabupaten Batanghari untuk mengambil tindakan tegas dan tidak membiarkan kawasan konservasi ini rata dengan tanah akibat ulah oknum tidak bertanggung jawab.
”Pemerintah tidak boleh tunduk pada dugaan intimidasi atau permainan mafia tanah. Kami berharap fungsi Tahura Senami segera dikembalikan seperti sedia kala,” ungkap salah seorang tokoh masyarakat setempat.
Masyarakat menantikan langkah konkret dan penegakan hukum tanpa pandang bulu dari pemerintah serta aparat kepolisian, baik untuk memadamkan sisa api, mengusut tuntas para pelaku perusakan hutan, maupun memulihkan kembali (reboisasi) kawasan ekosistem Senami yang tersisa.(Red)
Jurnalis:Taufik Mersam







